Halaman

Rabu, Mei 26, 2010

Cinta dan Waktu

Alkisah disuatu pulau kecil, tinggallah berbagai macam benda-benda abstrak ada Cinta, Kesedihan, Kekayaan, Kegembiraan, dan sebagainya. Mereka hidup berdampingan dengan baik.

Namun suatu ketika, dating badai menghempas pulau kecil itu dan air laut tiba-tiba naik dan akan menenggelamkan pulau itu. Semua penghuni pulau cepat-cepat berusaha menyelamatkan diri. Cinta sangat kebingungan sebeb ia tidak dapat berenang dan tidak mempunyai perahu. Ia berdiri di tepi pantai mencoba mencari pertolongan. Sementara itu air makin naik membasahi kaki cinta.



Tak lama Cinta melihat Kekayaan sedang menggayuh perahu. “Kekayaan! Kekayaan! Tolong akau!” teriak Cinta. “Aduh! Maaf Cinta!” kata Kekayaan, “Perahuku telah penuh dengan harta bendaku. Aku tak dapat membawamu serta, nanti perahu ini tenggelam. Lagi pula tak ada tempat lagi bagimu diperahu ini.”

Lalu kekayaan cepat-cepat menggayuh perahunya pergi. Cinta sedih sekali, namun kemudian dilahtanya Kegembiraan lewat dengan perahunya. “Kegembiraan! Tolong aku!”, teriak Cinta. Namun Kegembiraan terlalu gembira Karena ia menemukan perahu sehingga ia tak mendengar terikan Cinta.

Air makin tinggi membasahi Cinta sampai kepinggang dan Cinta semakin panic. Tak lama lewatlah Kecantikan. “Kecantikan! Bawalah aku bersamamu!”, teriak Cinta. “Wah Cinta kamu basah dan kotor. Aku tak bisa membawamu ikut. Nanti kamu mengotori perahuku yang indah ini.” Sahut Kecantikan.

Cinta sedih sekali mendengarnya. Ia mulai nangis terisak-isak. Saat itu lewatlah Kesedihan. “Oh, Kesedihan, bawalah aku bersamamu,” kata Cinta. “Maaf, Cinta. Aku sedang sedih dan aku ingin sendiri saja…” kata Kesedihan sambil terus menggayuh perahunya. Cinta putus asa. Ia merasakan air makin naik dan akan menenggelamkannya. Pada saat kritis itulah tiba-tiba terdengar suara, “Cinta! Mari cepat naik keperahuku!” Cinta menoleh kea rah suara itu dan melihat seorang tua dengan perahunya. Cepat-cepat Cinta naik keperahu itu, tepat sebelum air menenggelamkannya.

Di pulau terdekat, orang itu menurunkan cinta dan segera pergi lagi. Pada saat itu barulah Cinta sadar bahwa ia sama sekali tidak mengetahui siapa orang tua yang menyelamatkannya itu. Cinta segera menanyakannya kepada seorang penduduk tua dipulau itu, siapa sebenarnya orang tua itu. “Oh, orang tua tadi? Dia adalah Waktu.” Kata orang itu. “Tapi, mengapa ia menyelamatkanku? Aku tak mengenalnya. Bahkan teman-teman yang mengenalku pun enggan menolongku” Tanya Cinta heran. “Sebab,” kata orang itu, “Hanya Waktulah yang tau berapa nilai sesungguhnya dari Cinta itu…”

Tidak ada komentar: